Indiskop Festival 2020 akan Digelar Secara Online


Bioskop independen, Indiskop, yang berdiri sejak tahun 2019, akan menyelenggarakan Indiskop Festival 2020 yang akan berlangsung mulai tanggal 26 Juni – 31 Agustus 2020.

Festival yang mengangkat tema “Indonesia Bangkit – Dari Rumah untuk Indonesia” ini akan diselenggarakan secara online untuk pertama kalinya. Rangkaian program yang ditawarkan antara lain filmmaking class, social and creative enterpreneurship class, talkshow, hingga short film competition dan film screening.

Menurut Marcella Zalianty yang merupakan inisiator Indiskop Festival, melalui launching yang dilakukan hari ini (24/6/20), acara ini bertujuan untuk membangun optimisme yang harus dijaga ketat di saat-saat sulit seperti ini (baca: pandemi covid 19). Marcella berharap festival ini akan menyebarkan energi positif.

Program Kompetisi Film Pendek yang akan digelar ini akan melibatkan seluruh masyarakat karena dibuka untuk umum. Nantinya film-film pendek dengan tema #DariRumahuntukIndonesia yang disertakan dalam lomba akan ditayangkan melalui kanal aplikasi milik Indiskop.

Seluruh kegiatan ini akan dilakukan secara virtual melalui medium online, mulai dari pemutaran, hingga “Malam Penghargaan”. Program lainnya seperti IndisTalk, akan membahas berbagai tema terkait film, sosial budaya, dan topik-topik hangat lainnya. Kita bisa menonton secara Live melalui kanal resmi Indiskop setiap hari Senin, pukul 16:00 WIB.

Kegiatan ini juga sejalan dengan perayaan HUT RI ke-75, sehingga pada pemutaran film melaluji program IndisScreening, akan menayangkan film-film hasil kurasi dengan tema “Indonesia Bangkit”.

Terkait dengan kelas film, Program IndisClass akan menghadirkan nama-nama besar di perfilman Indonesia sebagai mentor, yang akan mengajarkan berbagai hal seputar film.

Beberapa nama yang disebutkan antara lain Garin Nugroho, Angga Sasongko, Ifa Isfansyah, hingga aktor ternama seperti Reza Rahadian, Teuku Rifnu Wikana, Sha Ine Febriyanti, dan Chelsea Islan. Kelas-kelas ini akan sepenuhnya dilakukan secara online.

Kelas-kelas ini ditawarkan dengan paket-paket beragam, mulai dari Rp 50.000, hingga Rp 2 juta. Kalau mengambil semua sesi, ada harga khusus yang ditawarkan.

Indiskop Festival adalah acara yang digagas melalui kerjasama Indiskop dan Bank Mandiri, serta didukung oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Kementerian Komunikasi dan Informatika, Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, serta Indika Foundation.

Gundala Rilis Blu-Ray dan DVD di Amerika, Jerman dan Prancis


Kabar gembira bagi kolektor film fisik di Indonesia, karena Gundala akan rilis dalam format blu-ray dan DVD. Kedua format home video ini akan dirilis pada tanggal 28 Juli 2020 di Amerika Serikat, dan sudah rilis di Jerman pada tanggal 28 Mei 2020.

Blu-ray dan DVD Gundala rilisan Amerika Serikat dibuat dan didistribusikan oleh Well Go USA Entertainment, dengan menghadirkan beberapa fitur khusus seperti Production Vlogs dan Behind the Scenes. Dubbing Inggris menjadi opsi utama untuk rilisan Amerika Serikat ini, selain tentunya tersedia juga bahasa asli (Bahasa Indonesia).

Untuk blu-ray dan DVD versi Jerman, fitur khusus yang disertakan dalam paketnya juga sama, bedanya, ada tambahan opsi bahasa Jerman.

Kedua rilisan ini bisa dibeli di Amazon US dan Amazon Jerman. Blu-ray rilisan Amerika Serikat bisa diputar di player Indonesia, karena sama-sama Region A, tapi untuk rilisan Jerman, perlu pemutar blu-ray Region B.

DVD rilisan kedua negara ini bisa diputar di player DVD Indonesia, selama player tersebut mendukung All Region, karena Indonesia adalah Region 3, sementara Amerika Serikat adalah Region 1, dan Jerman Region 2.

Blu-ray dan DVD Gundala versi Prancis akan rilis pada tanggal 26 Agustus 2020. Judul ‘Red Storm’ digunakan untuk rilisan Prancis ini.

Selain ketiga rilisan tersebut, kabarnya blu-ray dan DVD Gundala produksi lokal juga sedang dipersiapkan. Hal ini terungkap dari beberapa cuitan Joko Anwar di Twitter. Untuk tanggal rilisnya sendiri, hingga saat ini masih belum diumumkan.

Nah, gimana, mau pilih yang mana, nih untuk melengkapi koleksi blu-ray dan DVD kamu? Dukung terus film Indonesia dan selalu beli home video original, yah!

Amigdala – Ketika Kaki Mulai Menapak Maju Meninggalkan Masa Lalu


Amigdala

Trauma masa lalu ngga hilang begitu saja, dan bisa kembali di saat-saat yang ngga pernah kita duga sebelumnya. Bila itu terjadi, pilihannya hanya berdiam diri dan semakin terpuruk, atau kita mencoba bangkit dan menyusun kembali retakan-retakan yang telah menjadi puing. Susunannya ngga akan pernah utuh sempurna, namun dari situ juga lah, ada celah-celah baru sebagai ruang untuk mencari kedamaian.

Mengutip barisan kata dari novel ‘Amigdala: Perjalanan Merepresi Memori’ karya seorang penulis yang lebih nyaman disapa dengan panggilan Ega MpokGaga;

“Hidup adalah tentang bagaimana kamu menghadapi kegagalan dari sekian banyak rencana yang telah kamu susun sedemikian rupa.

Hidup adalah tentang bagaimana kamu menghadapi ketakutan tentang segala ketidakpastian dan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang bisa kapan saja terjadi”

Seperti itu lah perjalanan gue membaca kata demi kata dalam barisan kalimat yang merangkum sebuah kisah tentang Ishtar, seorang perempuan penyitas kekerasan dalam rumah tangga yang mencoba untuk kembali menjalani hidupnya seperti sedia kala.

Alur cerita novel fiksi ini dibawakan dengan gaya penceritaan yang non-linear, dimana gue selalu dibawa penasaran untuk membaca kelanjutan setiap chapter-nya untuk mendapatkan satu kerangka cerita yang utuh.

Umumnya sebuah cerita dibawakan dengan urutan-urutan baku, namun di Amigdala, kita tidak mendapatkan itu. Satu chapter dengan chapter lainnya ngga selalu berhubungan secara langsung. Ini yang bikin ceritanya jadi tetap menarik untuk selalu diikuti. Apalagi, konflik yang terjadi di setiap chapter-nya tuh ngga menumpuk.

Membaca Amigdala itu seperti sedang bermain puzzle, dimana potongan-potongan konflik yang diberikan secara acak pada setiap chapter-nya, perlahan membangun suatu kesatuan cerita. Artinya, setiap konflik baru pada akhirnya akan memberikan resolusi di konflik sebelumnya, begitu pun sebaliknya.

Ishtar adalah sesosok karakter perempuan yang terlihat keras, namun memiliki watak yang lembut. Buku ini adalah runutan kisah hidupnya dalam sebuah perjalanan untuk mencoba memaafkan masa lalu dan berdamai dengan dirinya sendiri.

Cara Ega menggambarkan karakter-karakter di ceritanya juga memiliki keunikannya sendiri. Mungkin karena buku ini mengambil sudut pandang perempuan, gue melihat disini setiap karakter cowoknya ditampilkan dengan sedikit feminim, baik dari pemilihan kata dalam dialognya, maupun penggambaran gerak-gerik mereka.

Buat gue, ini adalah sesuatu yang bagus. Gue ngerasa lebih paham tentang bagaimana perempuan melihat sosok cowok. Tentunya jauh berbeda dari apa yang gue (sebagai cowok) lihat dari seorang cowok (lain). Ega seperti menuliskan bagian depan dari sebuah buku, dimana gue lalu mengintrepretasikannya melalui pemahaman dan pengalaman gue sendiri sebagai cowok.

Hal ini sedikitnya membantu gue untuk mempertegas pola pikir setiap karakter cowok yang ada di cerita ini. Apalagi melalui gaya penceritaan yang dihadirkan dengan dua sudut pandang berbeda, kenikmatan untuk mendalami karakter-karakternya semakin terasa.

Oh ya, ini satu hal lainnya yang gue suka dari buku ini. Dua sudut pandang berbeda. Gaya penceritaan seperti ini memberikan atmosfir yang berbeda untuk adegan yang sebenarnya terjadi diwaktu yang sama, namun dengan adanya dua kepala yang menceritakan versi mereka masing-masing, situasi yang sama tersebut menjadi dua cerita yang berbeda.

Secara keseluruhan, buku ini menunjukkan sisi gelap dari sebuah hubungan yang toxic. Tentang bagaimana sebuah pilihan yang (dianggap) terbaik, bisa menjadi sesuatu yang salah. Tema ceritanya cukup berat dan konflik yang dihadirkan begitu nyata. Gue hampir bisa membedakan mana yang fiksi dan mana yang berdasarkan pengalaman pribadi.

Secara keseluruhan, gaya bahasa yang digunakan cukup sederhana dan sangat mudah dipahami. Konfliknya memang berat, dan gue yakin ini akan menimbulkan impact yang berbeda buat pembaca yang pernah mengalami situasi serupa. Makanya gue sarankan untuk mencari waktu luang yang santai untuk membacanya.

Amigdala: Perjalanan Merepresi Memori adalah bagian pertama dari trilogi semesta Amigdala karya Ega MpokGaga. Ngga sabar menunggu dua buku selanjutnya.

Temen Kondangan, Kekacauan di Acara Nikahan Mantan!


Ngga perlu waktu lama untuk bisa menyukai film ‘Temen Kondangan’, karena menit-menit pembukanya sudah langsung to the poin tanpa basa-basi, dan terus mengalir memberikan deretan adegan demi adegan yang fun, menghibur, jujur, loveable, sederhana, dan super sweet.

Film dibuka dengan adegan dimana Putri (Prisa Nasution) sedang “dipaksa” untuk membuat keputusan apakah dirinya akan menghadiri acara pernikahan mantan pacarnya, atau ngga. Posisinya sebagai selebgram membuat situasi semakin sulit, karena Putri harus membuat satu hal (baca: sensasi) yang bisa menambah jumlah followers-nya, dan dia merasa ini kesempatan emasnya.

Karena desakan teman-temannya, Putri akhirnya mengumumkan bahwa dirinya akan datang menghadiri undangan pernikahan mantannya. Masalahnya, dia ngga mau datang sendiri karena gengsi, maka dipilih lah tiga orang kandidat; Juna (Kevin Julio), Galih (Gading Marten), dan Yusuf (Reza Nangin) untuk pura-pura jadi pacarnya. Pilihan akhirnya jatuh kepada Yusuf, tapi yang Putri ngga sangka, dua kandidat lainnya ternyata muncul di hari H. Disinilah deretan adegan kocak dimulai.

Prisia Nasution Temen Kondangan

Debut penyutradaraan Iip Sariful Hanan ini terus terang memberikan kesan yang manis bagi gue, yang memang sedari awal ngga berekspektasi apa-apa.

Prisia Nasution berakting dengan sangat baik disini. Kalian ngga mungkin ngga jatuh cinta sama karakter Putri yang diperankannya. Aktingnya kelihatan natural, dengan barisan dialog yang lepas, memberikan kesan spontan, dan humor-humor yang mengalir secara organik, ngga berasa scripted.

Reza Nangin Temen Kondangan

Dialog Bahasa Sunda yang dipakai di film ini juga menjadi daya tarik tersendiri, membuat setiap momen kemunculan Putri jadi semakin gemesin. Ini mendukung keseluruhan narasi yang bikin alur ceritanya jadi enak untuk diikuti.

Hampir 100% durasi film bertempat di satu lokasi, yaitu gedung resepsi pernikahan. Pemilihan lokasi ini tentunya memberikan tantangan untuk bagaimana caranya membuat film ini jadi ngga membosankan, bermain dalam satu lokasi. Tantangan ini dijawab dengan apik.

Temen Kondangan

Sinematografi dan transisi antar adegannya dirangkai dengan rapi. Humornya ngga receh, bahkan ada momen call back yang mengingatkan gue sama film-film Warkop DKI, melalui jalinan dialog bersambung antara beberapa karakter berbeda di situasi yang juga berbeda walau di satu adegan. Kalau memang benar ini tribute, ditampilkan dengan pas dan ngga berlebihan.

Temen Kondangan mengingatkan gue akan keasyikan menonton film yang sebenarnya, tanpa perlu mikir ini itu. Cukup duduk manis menikmati setiap adegan yang ditampilkan. Ngga perlu membahas kekurangan secara berlebihan. Pengalaman menonton seperti ini yang gue cari.

Temen Kondangan

Ini adalah film Indonesia kedua di tahun 2020 yang langsung gue daulat di posisi teratas film terfavorit, setelah ‘Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini’ (NKCTHI). Satu hal yang menarik dari film ini adalah (sepertinya) koneksi yang coba dibangun oleh MNC Studios International/MNC Pictures.

Film ini memiliki setting di universe yang sama dengan film MNC Pictures selanjutnya, ‘Toko Barang Mantan’ yang akan menampilkan duet pasangan Reza Rahadian dan Marsha Timothy. Gue akan menyebutnya “Mantan Cinematic Universe” karena memiliki benang merah yang sama. Kita lihat, apakah MNC Pictures memang sedang mempersiapkan sebuah jagat sinema baru, atau ini hanya sekedar promo biasa.

Temen Kondangan mulai tayang secara reguler tanggal 30 Januari 2020. Kalau kalian mau cari tontonan seru yang gampang bikin ketawa, tanpa perlu mikirin plot dll, gue rekomendasikan film ini.

John Wick Kembali dengan Porsi Aksi yang Lebih Brutal dari Sebelumnya


Bagian ketiga dari saga John Wick ini nggak main-main. Tanpa basa-basi, film langsung dimulai dengan berbagai variasi adegan aksi yang memicu adrenalin. Kalau sebelumnya sebuah pensil jadi senjata pembunuh yang ampuh, sekarang pakai buku! Selanjutnya apa, penggaris?

Apa sih yang ada dibayangan kalian kalau mendengar ada dua orang berantem, pisau lawan buku? Kalau menurut kalian pisau lebih unggul, buang jauh-jauh dulu pikiran itu. Kita ngomongin John Wick disini. Seorang mantan pembunuh bayaran yang cuma dengan modal pensil aja, bisa ngobrak-ngabrik dan ngebantai orang dalam satu ruangan.

Appetizer itu masih dilanjutkan dengan adegan pertarungan pisau yang cantik banget, dan itu baru dua lembar adegan aksi yang jadi pembuka ‘John Wick: Chapter 3 – Parabellum’. Setelahnya, kita disuguhi dengan berbagai macam adegan aksi yang masing-masing memiliki tema tersendiri.

Ya, kalian nggak salah dengar. Setiap adegan aksi di film ketiga John Wick ini punya tema. Bukan standar film aksi Amerika yang kebanyakan mengusung tema “dar der dor, duar!” doang. Tema yang gue maksud disini adalah pemisahan antara pertarungan tangan kosong, senjata tajam, senjata api, dan kombinasi. Semuanya diatur dengan rapi dan setiap pertarungan punya keunikan gaya koreografi tersendiri.

John Wick 3

Sebagai orang Indonesia, ada satu kebanggan tersendiri melihat dua aktor laga tanah air menjadi bagian dari film ini, dan bukan cuma peran ecek-ecek, karena porsi kang Yayan (Shinobi 2) dan kang Cecep (Shinobi 1) lumayan banyak. Puas rasanya melihat mereka juga diberikan barisan dialog dalam bahasa Indonesia yang bukan sekedar kalimat lalu, tapi sebuah percakapan yang ada maknanya.

Selain itu, musuh yang dihadapi oleh John Wick juga cukup beragam kali ini. Nggak melulu mafia dan gangster. Highlight-nya tentu saja geng ninjanya Zero (diperankan oleh Mark Dacascos) yang asli keren banget! Setiap mereka keluar, gue kaya bocah nemu permen. Excited for no reason. Oh wait, I do have a reason. A damn good one!

Akting Keanu Reeves sebagai John Wick juga menjadi salah satu kunci kesuksesan film ini, sehingga pada akhirnya, Hollywood harus menerima fakta kalau John Wick ini menjadi standar baru untuk film action. Sekarang sudah bukan masanya lagi action hero dengan catchy one liner yang pamer otot dan kejantanan. Sekarang waktunya jagoan-jagoan baru seperti John Wick ini yang mengambil alih.

John Wick 3

Satu hal yang paling gue perhatikan adalah, adanya pergeseran standar film aksi yang sekarang lebih condong ke gaya sinematografi Asia. Artinya, kebanyakan akan mempertontonkan gaya koreografi cantik yang merupakan gabungan dari seni beladiri tradisional dan modern. Gabungan kombinasi fists and guns ini lah yang membuat John Wick unik.

Penempatan humor di film ini lumayan cerdik dan nggak berlebihan. Gue benar-benar dibuat kecolongan beberapa kali. Adegan yang serius dan tegang, penuh adrenalin, bisa secara tiba-tiba bikin gue ketawa. Jadi kadang lagi berasa ngilu, tapi diwaktu yang sama, kok ya lucu, hahaha.

Detil-detil kecil yang sangat diperhatikan juga gue acungin jempol. Realistisnya tuh, sampai ke peluru habis dan harus reload berkali-kali. Bandingkan dengan beberapa film aksi tembak-tembakan yang seakan-akan pelurunya unlimited alias nggak habis-habis. Sentuhan detil ini yang bikin John Wick semakin relatable dengan realita di luar film.

John Wick Parabellum

Latihan intensif yang dijalani oleh Keanu Reeves dan Halle Berry sebagai persiapan shooting pun tampaknya membawa hasil, terutama Halle Berry yang memerankan karakter Sofia. Sosoknya berubah jadi seorang pembunuh yang bad-ass, ditemani dua ekor anjing setianya.

Pertanyaannya, dengan tingkatan aksi sekelas dan sekeren John Wick ini, apa gue masih perlu mempertanyakan lemahnya plot yang ditawarkan? Jawabannya, nggak tuh. Walau plotnya kurang solid, itu nggak jadi masalah buat gue, karena bukan itu yang sedari awal gue cari dari film ini.

Buat yang mau nonton, harap dicatat, ini film buat dewasa, yah. Banyak adegan sadis dan pertarungan brutal. Jadi mendingan jangan bawa anak-anak dibawah umur buat nonton. Oke? Sampai jumpa!

 

-Adjie-

The Pool: Neraka 6 Meter untuk (Mungkin) Orang Paling Sial di Thailand


Apa jadinya kalau kita terjebak dalam kolam renang kosong sedalam 6 meter, di lokasi antah berantah yang jauh dari pemukiman selama berhari-hari? Ngeri banget, kan? The Pool berhasil kasih ketegangan yang lumayan oke dengan hanya satu set lokasi.

Film ini berawal dari sebuah rumah produksi yang lagi shooting disebuah kolam renang yang ada di gedung olahraga tua. Gedung olahraga ini sudah lama nggak terpakai dan lokasinya berada di antah berantah yang jauh dari pemukiman.

Tokoh utama The Pool adalah Day (diperankan oleh Teeradej Wongpuapan), seorang kru art production yang bertanggung jawab untuk mengurus properti shooting.

Entah karena dilahirkan di hari yang nggak bagus atau gimana, si Day ini punya bakat sial yang jauh diatas rata-rata orang normal.

Setelah selesai shooting dan semua orang sudah pergi meninggalkan lokasi, Day ketiduran diatas pelampung sampai air kolamnya surut. Terjebak dalam kolam kosong sedalam 6 meter. Serunya lagi, dia terjebak di dalamnya bareng buaya liar yang hanyut ke kota karena terbawa banjir.

The pool film thailand

Film dengan judul asli ‘นรก 6 เมตร’, atau kalau diartikan secara harafiah kedalam bahasa Indonesia menjadi ‘Neraka 6 Meter’ ini, memberikan sebuah tontonan thriller yang berkutat pada satu lokasi saja.

Tentunya ini bukan hal baru, karena beberapa film seperti Buried (2010), atau Devil (2010) menggunakan konsep yang kurang lebih sama. The Pool berhasil banget kasih hiburan yang pol. Bukan cuma dari segi sinematografi saja, tapi juga musik latar yang mengiringi setiap adegan-adegannya. Musik ini sangat mendukung dalam membangun atmosfir tegang.

Penggunaan CGI untuk buayanya juga sangat mulus. Animasinya halus banget, dan detilnya bagus. Film yang digarap oleh Ping Lumpraploeng ini terasa berbeda dengan film-film garapan sebelumnya. Sutradara senior Thailand ini lebih dikenal dengan film-film komedi dan horor jayus, sehingga dengan dibuatnya The Pool ini, bisa dibilang dia menantang dirinya untuk menggarap film yang lebih serius, dalam hal tema dan genre. Hasilnya pun ternyata nggak mengecewakan.

Ketegangan bisa dibangun dengan baik, tapi dalam hal cerita, terus terang, The Pool ini lemah banget. Kalau tujuan nontonnya untuk cari cerita yang solid, nggak akan kita temukan disini.

Latar belakang karakter dan penokohannya sederhana banget. Benar-benar sederhana dan terkesan ditulis tanpa mikir. Si A disini begini, si B disana begitu, nanti dateng si C, dan seterusnya, dan seterusnya.

Karakter Day disini dibuat sial sesial sialnya. Mungkin bisa dibilang kalau si Day ini adalah orang paling sial di Thailand. Serius, kesialannya tuh bertubi-tubi dan seperti nggak ada habisnya, hahaha.

Secara keseluruhan, The Pool memang memberikan sesuatu yang sedikit beda dari kebanyakan film Thailand saat ini yang didominasi oleh film drama romantis dan komedi jayus. Terus terang, gue rindu sama film-film horor Thailand yang sempat berjaya beberapa tahun yang lalu. The Pool ini sedikit mengobati, walau sebenarnya juga bukan horor sih.

Buat yang punya waktu untuk ke bioskop, film ini bisa dijadikan salah satu pertimbangan buat ditonton. Bagus,

-Adjie-

Friend Zone, Film Romantis Terbaru GDH yang Disabotase Sponsor


Tahu kalau rumah produksi asal Thailand, GDH 559 bikin film drama romantis baru lagi, tentunya jadi semangat dong, apalagi track record mereka di genre ini udah bagus banget, terutama di Asia Tenggara. Sayangnya, kali ini beda ceritanya, film yang berpotensi bagus ini harus tunduk mengikuti kemauan sponsor.

Friend Zone adalah contoh yang tepat buat nunjukin gimana ngga asiknya sebuah film yang sebagian besar proses produksinya diatur sama sponsor. Ruang buat kreatifitas dan pengembangan cerita jadi sempit banget dan plotnya berasa di setir sama sponsor buat ngiklan.

Sebelum bahas lebih jauh soal itu, kita ulas dulu filmnya, yah. Jadi inti cerita film garapan Chayanop Boonprakob (sebelumnya menyutradarai SuckSeed dan May Who?) ini berputar pada dua karakter bernama Palm (diperankan oleh Naphat Siangsomboon) dan Gink (diperankan oleh Pimchanok Leuwisetpaiboon), yang sudah temenan sejak SMA.

Gink berasal dari kekuarga broken home dan digambarkan memiliki ayah yang selingkuh. Oke, bagian ini beneran nga pentik menurut gue, karena udah gitu saja, ngga dieksplor lebih lanjut dan keliatan cuma jadi tempelan cerita doang yang terus terang ngga ada kontribusinya sama sekali buat keseluruhan filmnya.

Sementara Palm, adalah teman cowok si Gink yang sama sekali ngga dikasih background story dan cuma nongol sebagai alasan kenapa film ini dikasih judul “Friend Zone”. Singkat cerita, Palm pernah ngomong ke Gink kalo mereka lebih baik temanan saja, dan berakhir dengan posisinya sebagai teman selama 10 tahun.

Dari plot itu, sebenarnya film ini bisa banget dikembangkan menjadi sebuah tontonan yang menarik. Tapi sayang, kali ini proses kretif harus kalah sama kemauan sponsor. Keliatan banget kalau film ini dibuat untuk memenuhi kemauan pihak pengucur dana doang. Ceritanya jadi keteteran dan seadanya. Pengembangan karakter nyaris ngga ada. Semuanya disajikan dengan biasa-biasa aja. Seadanya, yang penting jadi. Itu belum semua, karena deretan sponsor lain yang logonya terpampang di poster, juga minta jatah product placement di sepanjang film. *facepalm.

Akhirnya, bukan cuma berdampak pada proses kreatif saja, pemilihan lokasi pun harus banget pake aset-aset milik sponsor dengan merek dagang dan brand identity yang tersebar dimana-mana. Kalo sekali dua kali sih oke-oke aja menurut gue, karena gue paham kalo film juga perlu sponsor, tapi kalo sebuah adegan sengaja diada-adain cuma agar product placement-nya keliatan, kan malesin banget.

Bayangin selama kurang lebih 2 jam, kita musti nonton iklan Thai Airways dengan promo-promo destinasi andalan mereka. Bikin adegan loncat-loncat dari satu tempat ke tempat lain, bukan sebagai pendukung cerita, tapi sebaliknya, bikin cerita yang berputar pada tempat-tempat tersebut. Sebagian besar setting adegannya jadi berasa ada buat nampilin produk-produknya saja. Ini ganggu banget, sih.

Untungnya, masih ada hal bagus yang setidaknya bisa dinikmati selama nonton. Chemistry antara Palm dan Gink cukup bagus dan keliatan natural, kecuali Ted (diperankan oleh Jason Young) yang kaku dan keliatan scripted banget.

Komedinya masih bisa bikin ketawa, walau sebagian besar terlalu lokal. Artinya, bakalan lucu banget kalau kita familiar sama tren dan diksi-diksi dan plesetan gaul Thailand, karena jujur saja, pas diartikan ke dalam bahasa Inggris melalui subtitle, agak ngga dapet. Dramanya, terus terang biasa saja, cenderung overused, tapi secara keseluruhan, Friend Zone masih bisa menghibur dengan kelucuannya. Ini yang jadi salah satu kekuatannya. Sisanya, nyebelin.

-Adjie-